[Opini] Tertib di Perlintasan, Susahkah?

  Salah satu kebiasaan buruk pengendara kendaraan bermotor di Indonesia adalah tidak tertib di perlintasan kereta api. Sudah berapa banyak korban meninggal maupun luka berat gara-gara menerjang perlintasan? Kemarin-kemarin, 5 orang meninggal dunia di Kendal gara-gara mengangkat palang dan menerobos, padahal masih ada satu KA yang akan lewat. Jadilah dua motor beserta penumpangnya disambar KA. 

Jalan Hasanudin, Semarang
 Selain nerobos, kadang juga menuh-menuhin jalan. Jadinya saat palang dibuka, riweuh deh, macam semut bubaran abis ditiupin. Dan ini bakal tambah ribet saat antrian belum keurai namun ada kereta mau lewat.  Kadang-kadang kita pengen misuh (marah-marah) saat perlintasan ribet, tanpa sadar ya kita sendiri yang bikin ribet... Harusnya sih, ya antrilah secara tertib. Jajar ke belakang, kalo kesamping mana bisa kendaraan dari arah berlawanan lewat. Jadilah ganteng-gantengan, sama-sama berenti nunggu bisa lewat. Hasilnya? Macet. Jangan pula berhenti di depan palang. Kalo kesenggol bisa mampus.

Baratnya Semarang Tawang
 Nerobos adalah penyakit masyarakat kita. Macam banyak nyawa aja main nerobos. Padahal kereta api bukan motor yang bisa direm mendadak. Paling tidak, KA butuh jarak 300an meter untuk berhenti sempurna, itupun kalo jalannya gak cepet. Kalo jalannya 90 km/jam atau diatasnya ya lebih panjang lagi jarak yang diperlukan untuk berhenti sempurna. Kereta juga bukan busa yang empuk kalo ditabrak. Itu kombinasi besi yang bergerak dengan kecepatan tinggi dengan momentum besar akibat muatan yang berat. Hasilnya ya daya hantamnya mematikan. Bahkan sekalipun hanya sedikit kesenggol cowcatcher. Tapi ya, tetep aja pada nerobos. Macam nyawa bisa diganti. Gak peduli banyak yang meninggal gara-gara nerobos. Padahal secara legal atau secara hukum, yang didahulukan adalah kereta api, baik dalam UU Perkeretaapian atau UU Lalu-lintas dan Angkutan Jalan Raya. Palang pintu perlintasan kan aslinya bukan rambu lalu-lintas, tapi alat pengamanan perjalanan kereta api. Yang ngeri ya kalo di jalur ganda. Perlintasan jalur ganda berarti bahaya ganda. KA dapat secara bersamaan lewat. Nah, kalo udah lewat satu tapi ternyata masih ada yang mau lewat gimana hayo? Nerobos ya kena... Makanya, jangan terlalu terburu-buru, pastikan keadaan bener-bener aman, baru lewat. Yang perlu diingat, mengerem benda dengan massa 500 ton atau lebih itu gak mudah. Butuh perhitungan yang tepat dan jarak yang memadai. Kereta gak bisa sembarangan direm. Salah-salah malah jalannya limbung karena kedorong (Inertia, Hukum Newton I). Makanya, kebanyakan masinis lebih memilih menghajar daripada mengerem. Pertimbangannya ya jarak yang gak cukup dan kemungkinan keretanya jadi morat-marit karena direm mendadak. Beberapa malah menambah throttle agar KA berjalan lebih cepat, dengan harapan yang melintang di rel pas kesenggol terlempar kesamping.

Jalan Petek, Semarang
  Nah kalo udah kesenggol, siapa yang rugi? Ya gak cuma kita yang rugi... Contoh aja kejadian di Pasar Senen kemaren-kemaren. Udah rugi nyawa, rugi material banyak, banyak juga yang dirugikan gara-gara keretanya telat atau KRLnya dibatalkan. Udah merugikan berapa pihak itu? Dan kalopun kesamber, ya gak bisa nuntut KAI... Wong aslinya ada atau tidaknya palang pengguna jalan harus berhenti sebelum nyebrang kok. Dalam kasus perlintasan, yang benar-benar harus menjaga keselamatannya ya pengguna jalan. KAI gak ngurus perlintasan meskipun menempatkan penjaga. Perlintasan aslinya wewenang pemerintah daerah. 

Karangawen, Demak
  Kadang-kadang saya bertanya, apa sebenernya tertib di perlintasan itu susah? Apa itu hal yang mustahil? Jawabannya ya terserah anda, kalo saya sih lebih milih tertib. Waktu beberapa menit itu gak sebanding dengan resiko yang dikeluarkan kalo nggak tertib. Kalo masih hidup ya sukur, kalo nyawanya ilang emang bisa diganti? Diganti make apa? Nyawa kambing? Mau nunggu berapa korban lagi biar pada tertib? Mau berapa banyak kendaraan yang ringsek dan air mata yang menetes biar kita tertib? Apa harus palang pintunya diganti make pager beton biar gan nerobos? Sudah banyak kasus, sudah banyak yang meninggal, dan kita masih gak tertib? Mungkin nunggu lebaran kuda baru kita bisa tertib... Atau nunggu gajah bisa salto biar kita bisa tertib...

 Mungkin koleksi Perpustakaan Nasional RI ini bisa mewakili suara hati saya....


0 comments: