Sistem Eignaar

  Sistem eignaar adalah sistem dinasan yang jamak digunakan di era 50-80an. Dalam sistem ini, satu lokomotif hanya "dipegang" oleh satu atau dua stel kru (Masinis dan Juru Api/Stoker). Kru yang "dijatah" dibebaskan untuk menghias lokonya dengan hiasan-hiasan yang kadang berbahan kuningan, seperti bintang atau lambang perusahaan KA,meskipun beberapa dipo punya hiasan sendiri yang menjadi ciri khas dipo tersebut. Karenanya, banyak lok yang terkesan "ramai" dengan hiasan dan berbeda dari lok lainnya.

DD52 02 di Cicalengka, dari buku The Mallet Locomotive karya A.E Durrant. Perhatikan hiasan yang ada pada tutup semboyan.
 Kru bertanggung jawab pada kebersihan dan kesiapan lok, meskipun dalam pemeriksaan dan pemeliharaan dibantu oleh mekanik dipo. Terkadang, kru menyisihkan uangnya untuk membeli brasso,yang digunakan untuk mengkilapkan ornamen-ornamen kuningan yang ada pada lokomotif. Selain itu, kru terkadang juga membeli kain lap, amplas halus dll untuk membersihkan lokomotifnya. Dipo terkadang memberikan reward kepada kru yang lokonya paling bersih dan bagus. Lok yang paling bersih biasanya terpilih untuk digunakan menarik kereta inspeksi Direksi, bisa direktur Jawatan atau kepala Inspeksi/Eksploitasi. Karena pemberlakuan sistem eignaar, terkadang timbul ikatan batin antara lok dengan kru. Contohnya, seorang pensiunan pernah bercerita,salah seorang masinis dipo Cepu menangis histeris menyaksikan C28 "miliknya" dirucat. Lok terkadang dirawat layaknya milik sendiri, bahkan layaknya anak sendiri.

CC50 01 di halte Pasir Jengkol, dengan ornamen-ornamen terpasang pada tutup semboyan. Foto : Gruss Thuri
 Untuk lokomotif diesel, ada beberapa seri yang menggunakan sistem eignaar, sama seperti lok uap. Yang paling lazim ditemui adalah BB301, dengan berbagai macam hiasan yang tertempel di "hidung" yang berada di atas pelat nomor muka.

BB301 40 dengan ornamen bergambar unta. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti

BB301 03 dengan ornamen bintang dan lingkaran bersayap. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti
 Di era 80an, banyak lok sudah tampil "standar" meskipun sistem eignaar masih diberlakukan. Konsekuensi dari pemberlakuan sistem eignaar sendiri adalah kru harus selalu mengikuti kemanapun lok pergi. Akibatnya, dinasan lok dibatasi, yang membuat KA harus tukar lok ditengah perjalanan. Ada cerita, dimana seorang masinis Bandung yang berdinas hingga Yogyakarta harus mengikuti loknya ke Purwokerto dan kembali ke Yogyakarta. Beliau meninggal akibat kelelahan saat mengikuti loknya. Di era KAI, sistem eignaar masih diterapkan, namun hanya untuk MPJR (Mesin Perawatan Jalan Rel), dimana satu MPJR dihandle oleh 2-8 orang.

PBR-400U-RS, salah satu jenis MPJR.

2 comments:

  1. Apakah lok diesel selain BB301 jg pernah pk sistem begini? CC200 misalnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. BB304 juga memakai sistem ini. Untuk lok lain masih dalam penelusuran..

      Delete