Aset PUSRI

 PT. Pupuk Sriwidjaja (PUSRI) sempat memiliki ratusan aset berupa gerbong-gerbong tertutup berkapasitas muat 30 ton. Gerbong-gerbong ini didatangkan PUSRI untuk memenuhi kebutuhan angkutan pupuk yang mulai berkembang di era 70an akhir. PUSRI mendatangkan gerbong-gerbong miliknya dari beberapa pabrikan. Gerbong-gerbong bergandar 4 ini kemudian digunakan untuk mengantarkan pupuk dari Cilacap dan Indro menuju GPP (Gudang Persediaan Pupuk) maupun Stasiun Gudang yang tersebar diseluruh Jawa. Semasa jaya, Pupuk disebar dari dua stasiun, Indro dan Cilacap. Indro melayani GPP wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah Utara dan Jawa Barat (hanya sampai Cikarang). Sementara Cilacap melayani GPP wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat bagian selatan. Selain itu, beberapa GPP juga ditunjang pupuk dari PT Pupuk Kujang maupun Petrokimia Gresik.Namun sayangnya, angkutan pupuk meredup di era 1990an akhir hingga pertengahan era 2000an. Gerbong-gerbong milik PUSRI banyak yang dibiarkan menganggur. Beberapa puluh gerbong sempat dimanfaatkan KAI untuk angkutan semen maupun untuk gerbong penolong. Sekitar 2013, PUSRI memutuskan untuk "memusnahkan" gerbong-gerbong miliknya. Gerbong-gerbong bercat biru yang khas ini akhirnya menemui maut, dipotong-potong oleh tukang las, dikilokan oleh PUSRI. Agak ironis memang, saat akhirnya angkutan pupuk Cilacap aktif kembali pada 2015 lalu, PUSRI sudah tidak memiliki gerbong lagi...

CC201 melangsir gerbong milik PUSRI yang baru tiba di Tanjung Priok, 1977. Koleksi Bpk. Eddy Mardijanto
BB304 dengan SKAB Pupuk berangkat Indro, 1987. Koleksi : Bpk. Mohammad Luthfi Tjahjadi

Gerbong-gerbong milik PUSRI :

1. Seri T52

    Seri T52 adalah gerbong pertama yang dibeli PUSRI. Gerbong-gerbong seri ini memiliki ciri khas berupa atapnya yang melengkung dan bodynya yang halus. Gerbong-gerbong seri ini dibeli dari pabrikan Daewoo, Korea Selatan, pada 1977,sebanyak 175 unit dengan nomor GGW-305001 s.d GGW-305175.Gerbong ini memiliki berat kosong 15 ton dan kapasitas muatnya 30 ton.

Gerbong tertutup seri T52. Foto : Bima Budi Satria
2. Seri T54
    Gerbong dengan berat kosong 15 ton dan kapasitas muat 30 ton ini dibuat oleh Konsorsium yang terdiri dari Korean Shipbuilding & Engineering Co. , Daewoo, dan Hyundai Rollingstock Mfg. Gerbong-gerbong ini dikirim ke Indonesia dalam bentuk CKD (Complete Knock Down) untuk kemudian dirakit di INKA. Gerbong yang didatangkan sebanyak 200 unit ini memiliki bordes untuk tempat PLRM (pelayan rem). GGW ini diberi nomor GGW-305396 s.d GGW-305595. Gerbong-gerbong seri ini mulai berdinas pada 1985. Secara fisik, gerbong-gerbong seri T54 mirip dengan gerbong-gerbong seri T51 buatan Jepang yang dimiliki PJKA. Bedanya, seri T54 memiliki bordes dengan pagar pipa besi.

GGW seri T54. Foto : Bima Budi Satria
Pelat pabrikan GGW seri T54
3. Seri T53
  Gerbong-gerbong seri T53 dibuat oleh Pabrikan Hawker Siddeley, Kanada pada 1982. Gerbong ini memiliki perawakan fisik yang cukup tinggi dengan dinding yang khas. Gerbong berkapasitas muat 30 ton dengan berat kosong 30 ton ini didatangkan sebanyak 220 unit, dengan nomor GGW-305176 s.d GGW-305395. Setidaknya ada dua unit GGW seri T53 yang dijadikan gerbong penolong. Satu di Cirebon sementara satunya lagi di Malang. Keduanya ikut dirucat saat PUSRI membersihkan asetnya.

GGW seri T53. Foto : Bima Budi Satria
Seri T53 yang dijadikan gerbong penolong di Cirebon. Foto : Edy Widiyanto
 Seluruh gerbong-gerbong milik PUSRI menggunakan bogie barber, meski pada akhirnya beberapa unit berganti bogie menjadi bogie kuda kepang.

Bogie barber milik GGW seri T54.
 Cukup disayangkan PUSRI menghabisi aset-aset berupa gerbong-gerbong yang unik ini... Gerbong-gerbong milik PUSRI berbeda bentuk fisiknya dengan milik PJKA. Dahulu, sebelum dimanfaatkan untuk angkutan semen, logo PUSRI besar selalu terpampang di body gerbong-gerbong ini, dengan pojok kanan atas gerbong ditulis kode stasiun asal (CP atau IDO).

0 comments: