Purbaya, Pangeran dari Sudut Barat Jawa Tengah

  Sebenarnya, masih diperdebatkan apa arti dari nama Purbaya yang dipakai KA ini... Apakah itu merujuk pada nama Pangeran Purbaya, atau pada akronim Purwokerto-Surabaya... Purbaya diluncurkan pada 15 April 1971,melayani rute Purwokerto-Surabaya. Awalnya, Purbaya merupakan KA Kelas 3 Plus yang berbeda dari Kelas 3 biasa... Awalnya, kereta Purbaya dilengkapi dengan speaker dan penumpang mendapat tuslah makan. Livery yang dipakai juga berbeda dengan KA kebanyakan, yaitu kuning-pink,meski ada yang menggunakan warna krem-hijau seperti kereta kelas 3 lainnya.

BB 301 54 dengan KA Purbaya. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti

Purbaya. Foto : Alm. M.V. A Krishnamurti

KA Purbaya di dekat jembatan Bengawan Solo, Solo. Kereta dibelakang bagasi adalah kereta kelas 3 yang dilengkapi dengan minibar. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti
BB 301 05 dengan KA Purbaya I (Surabaya-Purwokerto). Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti
Purbaya memiliki feeder dengan tujuan Cilacap. Rangkaian Purbaya dipecah/digabung di Kroya. Setiap pagi, 2-3 kereta dari Cilacap digabung dengan rangkaian Purbaya dari Purwokerto, sementara sorenya, 2-3 kereta dipisah dari rangkaian Purbaya untuk melanjutkan perjalanan ke Cilacap.Purbaya sendiri biasa ditarik BB 301,dan sempat menggunakan livery biru-putih di era 70an.

BB 301 06 dengan KA Purbaya memasuki stasiun Kroya. Foto milik Dough Prasser, koleksi Alm. M.V.A Krishnamurti
Purbaya di daerah Prambanan. Foto : Anonim
 Purbaya sendiri sempat dihapus di awal era 80an setelah perpanjangan relasi KA Argopuro, dimana relasi Argopuro berubah menjadi Jember-Purwokerto. Namun,dua tahun setelah dihapus, Purbaya kembali diluncurkan karena permintaan yang tinggi dari konsumen. Purbaya kali ini turun kelas menjadi KA Kelas 3 biasa (yang nama kelasnya kemudian dirubah jadi Ekonomi ditahun 1986). Purbaya di era 80an ditarik oleh BB 200 milik dipo Semarang Poncol yang diasistensikan ke Purwokerto.


BB 200 15 dengan KA 209 Purbaya persiapan berangkat dari Surabaya Gubeng. Foto : Bpk. M. Luthfi Tjahjadi
KA Purbaya di daerah Saradan/Wilangan. Foto : Bpk. M. Luthfi Tjahjadi
 Sayangnya, di era 1990an-2000an, Purbaya dikenal sebagai KA yang lambat dan mogokan. Di era 1990an hingga dihapus pada 2002, Purbaya sering dihela oleh BB 301. Uniknya,masinis DAOP V yang berdinas Purbaya terkadang tidak memiliki brevet BB 301, sehingga selalu membawa buku manual BB 301 sebagai bentuk antisipasi jika lok mengalami gangguan. Sayangnya, Purbaya sering mogok dijalan.Hal ini diperparah dengan Purbaya yang sering berhenti, entah untuk silang atau menaikkan penumpang.Hal ini membuat waktu tempuh Purbaya menjadi molor, meski ditopang oleh tarif yang murah. Di GAPEKA 2001 sendiri, Purbaya sangat tertindas, banyak sekali stasiun yang disinggahi oleh Purbaya (Jadwalnya disini dan disini). Purbaya semakin terjepit saat PERUMKA meluncurkan Logawa pada 21 April 1999. Logawa sendiri merupakan KA Ekonomi Plus yang juga membawa kereta kelas Bisnis. Meski harga tiketnya lebih mahal dari Purbaya, Logawa memiliki waktu tempuh yang lebih cepat. Purbayapun berjalan terseok-seok dari 1999 hingga 2002. Pada tahun 2002, Purbaya akhirnya dihapus, digulung oleh kebijakan Rasionalisasi KA yang diluncurkan PT KA. Sang Pangeran akhirnya kembali menghilang....

Dobel Traksi BB 301 menghela KA Purbaya. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti

BB 304 05 menghela KA Purbaya. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti

0 comments: