Babaranjang, Sebuah Cerita..

  Sejarah Babaranjang dimulai sejak digulirkannya proyek KP3BAKA (Kelompok Proyek Pengembangan Pengangkutan Batubara Kereta Api) tahun 1981. Proyek ini mencakup pembangunan stasiun Tanjungenim Baru, termasuk pembangunan TLS (Train Loading System) untuk proses pemuatan batubara.Proyek ini juga mencakup penambahan emplasemen beberapa stasiun menjadi long siding, atau emplasemen panjang untuk menampung KA Rangkaian Panjang.Selain itu, stasiun Tarahan juga dibangun untuk proses bongkar muat batubara.Upgrade rel sendiri selesai pada 1986, namun untuk upgrade jembatan baru selesai pada 2012 kemarin.Batubara yang diangkut sendiri digunakan untuk suplai PLTU Suralaya dan kebutuhan domestik lainnya.Batubara diangkut dari tambang milik PT Bukit Asam menuju Tarahan untuk selanjutnya diangkut menggunakan kapal. PT BA sendiri sebenarnya sudah mengangkut batubaranya dengan KA, namun proses bongkar dilakukan di Kertapati.

BB203 48 berdinas KLB Ujicoba TLS 1 Tanjungenim Baru. Koleksi Bima Budi Satria
 PJKA kemudian menjalankan sebuah KA Barang rangkaian panjang bernama Suraya,dengan rute Tanjungenim Baru-Tarahan. Suraya awalnya memiliki stamformasi 30an KKBW Rumania (KKBW dengan kapasitas muat 30 ton) yang ditarik oleh DT MU BB203/CC201.Namun kemudian pada 1985, PJKA mendatangkan KKBW berkapasitas muat 50 ton dari Kanada. KKBW ini juga digunakan oleh Suraya, stamformasi Suraya pun berubah, dengan adanya perjalanan yang stamformasinya 40an KKBW 50 ton yang dihela oleh 3 unit BB203/CC201.

Tarahan. Kemungkinan diambil dari Kalender PJKA. Koleksi : Anonim
  Selain mendatangkan KKBW 50 ton, PJKA melalui Balai Yasa Tegal melakukan modifikasi pada beberapa unit GW seri 7000an. GW seri 7000an ini dirombak menjadi kabus khusus untuk KA Suraya/Babaranjang.Beberapa unit kabus ini kemudian dikirim ke ESS (Eksplotasi Sumatera Selatan) dan berdinas di KA Babaranjang, bersama dengan kabus yang berasal dari GGW yang dirombak.

Kabus saat proses modifikasi. Koleksi Bpk. Santo Tjokro
  PJKA kemudian mendatangkan 15 unit lokomotif CC202 dari GMDD (General Motors Diesel Division) pada 1986. Lokomotif ini kemudian menggantikan CC201/BB203 menarik rangkaian batubara Tanjungenim Baru-Tarahan.Kemudian, nama Suraya luntur, digantikan oleh istilah Babaranjang (Batubara Rangkaian Panjang).

CC202 24 semasa berada di Kanada. Diambil dari brosur EMD, koleksi Franky de Witte
 Selain itu, stasiun-stasiun yang sebelumnya masih beremplasemen pendek juga direhab agar bisa menampung rangkaian panjang.Rehab emplasemen dilakukan secara bertahap dari 1985 hingga selesai di era 2000an.Selain pemanjangan emplasemen,ada juga halte yang dijadikan stasiun,seperti Belimbing Pendopo.PJKA juga membangun shortcut, yang sekarang dikenal sebagai lintas Prabumulih X5-X6, agar KA tidak perlu memutar lok di Prabumulih.

CC202 16 dengan rangkaian Babaranjang di tarahan. Dokumen PJKA, Koleksi Bpk. Harriman Widiarto.
KA Babaranjang melintas di Stasiun Belimbing Pendopo. Foto : Bpk. Santo Tjokro
KA Babaranjang. Koleksi Bpk. Ario Wibisono.
Koleksi Bpk. Lie Tjeng Tjiao
 Kemudian pada 1990,PJKA kembali mendatangkan 18 unit CC202, disusul 6 unit pada tahun 2001-2002.Pengadaan CC202 terakhir sendiri dilakukan sekitar tahun 2008, dengan mendatangkan 9 unit CC202.Penambahan lokomotif sendiri dilakukan seiring dengan bertambahnya frekuensi perjalanan Babaranjang.

Pengisian batubara di Tanjungenim Baru. Foto : Bpk. Yunarto Prabowo

CC202 16 melangsir rangkaian Babaranjang di Tarahan. Foto : Bpk. Yunarto Prabowo
Babaranjang isian meninggalkan stasiun Tanjungenim Baru. Foto : Bpk. Yunarto Prabowo
Babaranjang di wilayah Ujanmas. Foto : Fujinaga Hideki.
Foto : Fujinaga Hideki
Lintas KA Babaranjang sendiri tidaklah sepenuhnya datar, tetapi menyimpan beberapa titik "mematikan", dengan tanjakan yang cukup curam.Untuk membantu rangkaian Babaranjang menanjak, maka disediakanlah lok posko. Lok Posko biasanya bersiaga di Rejosari, maupun di stasiun antara Negararatu-Blambanganumpu. Petak Negararatu-Blambanganumpu sendiri adalah spot "mematikan" bagi Babaranjang isian karena kontur lintasnya yang naik turun, ditambah beban berat yang dihela.Lok Posko biasanya menggunakan CC201, atau CC202, meski terkadang CC205 juga digunakan. Lok Posko hanya membantu tenaga, dan hanya disambungkan couplernya dengan rangkaian Babaranjang. Setelah melewati tanjakan dan masuk stasiun terdekat, lok posko akan dilepas untuk kembali bertugas.Selain di lintas Blambanganumpu-Negararatu, lintas Tanjungkarang-Sukamenanti juga memiliki tanjakan curam, namun lok posko tidak dibutuhkan di lintas ini karena yang menanjak bukan Babaranjang isian, melainkan Babaranjang kosongan.Stasiun-stasiun di lintas Tanjungenim Baru-Tarahan sendiri memiliki emplasemen sepanjang 900-1000 meter, dengan Tulungbuyut sebagai stasiun dengan emplasemen terpanjang. Tulungbuyut sendiri memiliki emplasemen sepanjang kurang lebih 2200 meter, menjadikannya sebagai stasiun dengan emplasemen terpanjang di Indonesia.Banyak dari stasiun-stasiun tersebut berada di pinggir hutan, entah itu hutan belantara maupun hutan rakyat.Bahkan, stasiun Gilas terletak 5 kilometer dari jalan raya, berada di tengah hutan belantara. Terkadang, beruang madu maupun kawanan monyet liar sering terlihat di sekitar stasiun Gilas.

CC201 135R saat berdinas sebagai lok posko. Foto : Fujinaga Hideki
Babaranjang di Rejosari. CC204 di foto bertugas sebagai lok posko. Foto : Rendra S. Habib
 Untuk menambah kapasitas angkut, PT KAI mendatangkan 6 unit CC205 pada 2011.Selain itu, beberapa unit CC204 yang dimutasi dari Jawa juga sempat digunakan untuk menarik Babaranjang.CC205 sendiri menunjukkan performa yang luar biasa.Satu unit CC205 dapat menarik KA Babaranjang dengan stamformasi 45 KKBW.Sekitar tahun 2010, dijalankanlah Babaranjang "Super", dengan stamformasi 60 KKBW, lebih panjang dari Babaranjang biasa yang hanya membawa 40an KKBW. Babaranjang Super ini ditarik oleh 3 unit CC202 sebelum kedatangan CC205 batch 2 tahun 2011.Pernah juga Babaranjang Super ini dihela oleh 2 unit CC204.

CC204 13 dan CC204 25 menghela KA Babaranjang di Tanjungkarang. Foto : Bima Budi Satria.
3 unit CC202 menghela Babaranjang Super. Foto : Bpk. Firman Tr.
 Kemudian PT KAI kembali mendatangkan 50 unit CC205 pada tahun 2013, ditambah 5 unit tambahan dengan status "bonus" karena keterlambatan pengiriman CC205 batch 2. Dengan datangnya 55 unit CC205 ini, maka dimulailah era Babaranjang Super, dimana kini, mayoritas Babaranjang adalah Babaranjang Super yang dihela 2 unit CC205 atau 3 unit CC202. Kemudian sekitar Februari lalu, CC206 juga diuji cobakan untuk menarik KA Babaranjang.Awalnya 2 unit CC206 diujicobakan menarik Babaranjang Super, namun performanya dirasa tidak maksimal. Kemudian dijalankan lagi Babaranjang Super yang dihela CC206, kali ini dihela 3 unit CC206. Beberapa perjalanan Babaranjang kini dihela oleh 3 unit CC206.Kini, ada dua jenis Babaranjang, yaitu Babaranjang Super (60 KKBW) dan Babaranjang Biasa (45 KKBW).

Babaranjang Super di Ketapang, saat ujicoba CC206. Foto : Ardhi Dmm.
Babaranjang Super yang dihela 3 unit CC206. Foto : Bpk. Firman Tr.
CC205 dengan KA Babaranjang melintas Pos Blok Garuntang. Foto : Muhammad Rifai
CC202 menarik Babaranjang Reguler. Foto : Rahman Syawal Magrisa.
Babaranjang Super di Stasiun Penimur. Foto : Rahman Syawal M.
  Sebenarnya, performa CC205 masih bisa dimaksimalkan.Dua unit CC205 sebenarnya bisa menghela 80 KKBW (GB) 50 ton, namun akibat beberapa faktor, stamformasi Babaranjang Super hanya 60 KKBW, meski sempat diuji coba membawa 72 KKBW.Babaranjang Isian sendiri memegang prioritas tinggi di lintas, bahkan hingga mengalahkan KA Penumpang sekelas Sriwijaya.Babaranjang sendiri adalah tambang uang bagi KAI sejak 3 dekade lalu.Sebagian besar pendapatan KAI didapat dari angkutan batubara di Sumatera Selatan, oleh karena itu, KAI berani berinvestasi secara besar-besaran di sektor ini.Kini, Babaranjang memiliki penantang baru sesama KA Batubara, yaitu KA SCT Super. SCT Super memiliki stamformasi 64 GD yang dihela oleh CC206, dengan bobot total rangkaian saat bermuatan penuh seberat 4160 ton. Namun Babaranjang Super masih memegang tahta KA Terpanjang dan Terberat di Indonesia. Sebuah Babaranjang Super isian bisa memiliki panjang hingga lebih dari 900 meter, dengan bobot total lebih dari 4200 ton.



1 comment:

  1. yah, keluhan warga lampung tentang BBR belum dimuat :(

    ReplyDelete