Random Facts about Indonesian Railways (4)

1. Kata Rapih pada nama Rapih Dhoho merupakan singkatan dari Rangkaian Pisah. Ya, awalnya Dhoho melayani rute Blitar/Madiun-Surabaya. Dari Madiun, Dhoho ditarik oleh D52 dengan stamformasi 3 CW (kereta kelas 3). Sementara dari Blitar, Dhoho ditarik oleh C27/28 dengan stamformasi 3 CW. Kedua rangkaian digabung di Kertosono dan melanjutkan perjalanan ke Surabaya ditarik oleh D52. Dari Surabaya, rangkaian juga dipisah di Kertosono, dan ditarik D52 menuju Madiun dan C27/28 menuju Blitar. Dhoho menjadi KA Cepat terakhir yang ditarik oleh lok uap. Pada sekitar 1972/73, Dhoho tidak lagi melayani rute Madiun-Surabaya, hanya Blitar-Surabaya. Dan pada 1976, Dhoho pertama kali ditarik oleh lok diesel, BB301. Hal ini menandakan pensiunnya D52 dan C27/28 sebagai lok Dhoho.

KA Dhoho di Saradan. Foto karya A.E Durant dalam buku Lokomotip Uap, discan oleh Bpk. Indra Krishnamurti

2. Pada tanggal 19 Agustus 1964, D52 015 yang sedang menunggu rangkaian KA 2134 (Manggarai-Ckampek) di emplasemen Manggarai meluncur tanpa awak ke arah Tanahabang dengan kecepatan sekitar 20 km/jam. Lokomotif akhirnya dapat dihentikan oleh seorang Juru Langsir yang melompat ke kabin dan menarik tuas rem.

3. Pada tanggal 27 Agustus 1964, D52 079 yang sedang stabling di pelataran Dipo Jatinegara tiba-tiba bergerak tanpa awak. Lok akhirnya berhenti setelah menabrak beberapa gerbong yang terparkir di spur badug Dipo Jatinegara.

4. Pada 3 Desember 1962, KA 4622 bertabrakan dengan lori kerja di Kalimenur, Kulon Progo. Akibat kejadian itu, firebox C27 05 sobek. Uap panas dari firebox mengenai masinis dan juru api dan menyebabkan masinis dan juru api meninggal.

5. Pada 26 Desember 1962, KA 7 Kilat Malam menabrak rangkaian KA 4855 Barang Cepat yang terlepas di petak Saradan-Caruban. Akibat kejadian ini, 4 orang penumpang, masinis, asisten masinis mengalami luka ringan. Lokomotif CC200 yang menghela KA 7 rusak ringan dan 4 gerbong KA 4855 rusak.

6. BB301 yang pertama berdinas adalah BB301 27 yang mulai berdinas pada 3 Maret 1964.

BB301 27 di Dipo Yogyakarta. Foto : Bpk. M. Luthfi Tjahjadi
7. Penomoran KA Babaranjang dengan kode "BBR" di GAPEKA (Grafik Perjalanan KA) dimulai pada GAPEKA 1996 yang berlaku mulai 11 Januari 1996. Sebelumnya, Babaranjang bernomor 1400-1409.

8.  Penomoran KA dengan kode S,B, dan U di Sumatera dimulai pada GAPEKA 1993 yang mulai berlaku pada 11 Maret 1993. 

9.  Pada 20 April 1964, PNKA meluncurkan KA Kilat (non-stop) dengan relasi Jakarta-Bandung PP. KA Bandung-Jakarta diberi nama Pasopati sementara KA Jakarta-Bandung diberi nama Gowawijaya. Kedua KA tersebut menggunakan kereta baru buatan Nippon Sharyo, Jepang yang dilengkapi rem udara tekan.

10. Tulungbuyut (TLY) adalah stasiun dengan emplasemen terpanjang di Indonesia. Tulungbuyut memiliki emplasemen sepanjang sekitar 2200 meter, dimana emplasemen tsb cukup jika diisi dua Babaranjang Super (yang terdiri dari 60 gerbong).

11. Kereta kelas 3 (Ekonomi) dengan AC sebenarnya sudah ada di era DKARI (1950an), DKARI pada waktu itu memesan beberapa kereta kelas 3 (CL/CW) yang menggunakan AC. Namun AC yang digunakan masih AC yang menggunakan udara dingin dari es balok sebagai pendinginnya.

12. Bima dan Mutiara Utara adalah dua kereta yang pertama menggunakan kereta dengan AC Freon. Sebelumnya, AC yang digunakan pada kereta dengan fasilitas pendingin ruangan adalah AC yang menggunakan es balok sebagai pendinginnya. Perangkat AC diletakkan di kolong kereta, bukan diatap seperti sekarang.

13. Berpergian dengan KA di daerah Bandung-Banjar saat era pemberontakan DI-TII bisa berakhir dengan bencana. DI-TII sering mensabotase rel maupun menghadang KA. Bahkan DI-TII tidak segan-segan menembaki kereta yang berisi penumpang. Perjalanan malam di lintas ini sempat diharamkan, dimana penumpang harus menunggu pagi jika ingin melanjutkan perjalanan. KA biasanya dikawal oleh TNI yang berada di gerbong yang digandengkan di depan lokomotif.

14. Pada tanggal 12 Februari 1953, KA 64 terguling di km 224+3/4 petak jalan Warungbandrek-Bumiwaluya akibat sabotase DI-TII. Akibatnya, D52 080 terbalik sementara satu kereta kelas 3 dan kereta bagasi hancur. 2 orang pegawai DKA dan seorang penumpang luka berat sementara 8 orang pegawai DKA luka ringan.

15. Pada 28 Februari 1953, DI-TII kembali mensabotase petak Warungbandrek-Malangbong, kali ini di km 220+8/9. DI-TII mencabut 29 penambat rel dan dua bantalan. Akibatnya, sebuah KA anjlok. 2 orang pengawal KA luka berat akibat kontak tembak yang terjadi setelah anjlokan. 

16. DD51 digunakan hingga sekitar 1968, sebelum akhirnya dipensiunkan. Namun, lokomotif raksasa ini tetap disimpan, meski hanya sekitar dua unit saja yang ada dalam kondisi "baik". DD51 06 dan 10 disimpan di Dipo Lok Purwakarta. Keduanya dirucat sekitar 1991.

DD51 06 di Dipo Purwakarta, 1974. Foto : Frank Mitchell.
17. DD52 yang terakhir beroperasi adalah DD52 08 dan DD52 03. Keduanya pensiun sekitar Agustus 1977.

DD52 03 di Cibatu, 1 Februari 1974. Foto : Frank Mitchell.
18. Berbeda dengan CC50 yang bisa masuk ke jalur Cibatu-Cikajang (meski hanya sampai Garut), DD52 hanya berdinas di jalur utama (Bandung-Banjar) saja. Hal ini dikarenakan DD52 memiliki tekanan gandar yang terlalu besar untuk jalur Cibatu-Cikajang.

Dua raksasa perkeretaapian Indonesia. Discan dari buku PNKA Power Parade karya A.E Durant oleh Bpk. Indra Krishnamurti
19. Sama halnya dengan DD52, D52 tidak bisa masuk jalur Kediri-Malang karena tekanan gandarnya yang terlalu besar. Bahkan konon hingga membuat rel patah.

20.  BB301 39 dan BB301 14 dikirim ke DIVRE I Sumut. Sayangnya, keduanya tidak bisa berdinas secara maksimal dan akhirnya afkir disana.

BB301 39. Foto : Bpk. Paulus Sony Gumilang
21. Bogie K5 pertama kali dipakai oleh kereta kelas 3 (CW) buatan 1964 dari pabrikan Nippon Sharyo, Jepang.

22. CC203 pertama yang menjalani SPA adalah CC203 05. CC203 05 menjalani SPA pada 18 November 1996 dan keluar dari Balai Yasa pada 27 Desember 1996.


0 comments: