Random Facts about Indonesian Railways (3)

1. Harga kereta milik KA Bima buatan Gorlitz Wagenbau :
  • SAGW (Kereta Tidur kelas 1) : $89.254 per unit
  • SBGW (Kereta Tidur kelas 2) : $85.998 per unit
  • FW (Kereta Makan)                 : $82.104
  • DPW (Kereta Pembangkit)     :$71.720
2. Dahulu, kebanyakan kereta tidak memerlukan Kereta Pembangkit untuk mensuplai kebutuhan listriknya. Kereta-kereta yang tidak memerlukan Kereta Pembangkit ini merupakan kereta dengan sistem AC/GX, dimana listrik disuplai dari generator yang digerakkan oleh putaran roda melalui belt. Selain itu, kereta ini juga dilengkapi baterai yang tahan hingga dua jam. Sayangnya, ketika roda kereta berhenti berputar, daya listrik akan menurun sehingga lampu kereta akan meredup dan sistem kelistrikan lainnya tidak berfungsi dengan maksimal.

3. Pada tahun 1995, PERUMKA mengeluarkan kebijakan rasionalisasi armada, dimana hanya CC201 dan CC203 saja yang dipertahankan di Pulau Jawa. Konsekuensinya, suplai sparepart dan pemeliharaan berat lok selain CC201/203 di Jawa mulai dikurangi, bahkan diputus. Akibatnya banyak lok yang bertumbangan akibat kekurangan sparepart. Lok yang dapat bertahan biasanya harus mengkanibal sparepart lok yang lain.

4. CC200 bukanlah lokomotif diesel pertama di Indonesia. Lokomotif diesel pertama di Indonesia adalah sebuah lokomotif diesel mekanik milik PG Tasikmadu. Lok buatan Ruston and Hornsby ini mulai berdinas pada tahun 1951 dengan nomor pabrik 285961. Lok ini menggunakan mesin 4 silinder inline dengan penggerak rantai dan transmisi mekanik. Lok ini berjalan pada lebar rel/gauge 750mm. Jadi, lebih tepat jika menyebut CC200 sebagai lokomotif diesel elektrik pertama di Indonesia.

Lokomotif buatan Ruston and Hornsby milik PG Tasikmadu. Foto : Mas Yoga Bagus Prayogo Cokro Prawiro.
5. Dahulu, KA Penumpang jarak jauh di Lampung terminusnya di Panjang, bukan di Tanjungkarang. Biasanya, KA dari Kertapati rangkaiannya dipecah di Tanjungkarang. Dimana sekitar 3-4 kereta melanjutkan perjalanan ke Panjang. Penumpang kemudian akan menaiki kapal penyebrangan untuk menyebrang ke Pulau Jawa.

6. Di era 1990an, sempat dijalankan KA Barang bernama KA Bajasatwa. KA ini menggunakan PPCW (Gerbong datar) yang diberi kontainer yang dimodifikasi. KA ini berjalan dari Cilegon menuju Surabaya. Dari Cilegon, KA ini mengangkut baja, sementara dari Surabaya KA ini mengangkut hewan ternak.

7. PT Pupuk Kujang memiliki lokomotif langsir sendiri. Lok ini dibuat oleh Plymouth dan kini berada di areal pabrik Pupuk Kujang di Dawuan, Cikampek.

Lokomotif langsir milik PT Pupuk Kujang. Koleksi Bpk. Adi Sutjipto Halim
8. Selain Pupuk Kujang, Semen Gresik, Semen Baturaja dan Semen Nusantara juga memiliki lokomotif langsir sendiri yang sayangnya semuanya sudah mangkrak.

9. D52 086 milik Dipo Lok Kutoarjo merupakan D52 terakhir yang bisa beroperasi. D52 ini berjalan menarik KLB dari Kutoarjo-Purwokerto PP setiap hari Kereta Api (28 September). Sayang, tim Heritage terlambat menyelamatkan D52 086. Ketika tim heritage datang, D52 086 sudah dirucat.

10. C11 01 milik Dipo Lok Kertosono masih bisa beroperasi hingga sekitar 1990an, sebelum akhirnya dirucat juga.

11. C11 39 milik Dipo Lok Banjar sebenarnya akan dijadikan koleksi Museum Transportasi TMII. Lok ini sudah dicat ulang dan dihias sebagai lok pajangan dan sudah dicap "UNTUK MUSIUM TMII JAKARTA". Namun entah kenapa lok ini tidak jadi dikirim dan akhirnya dirucat.
Kondisi terakhir C11 39. Foto : Stephen Owens
12. Aslinya, ada 5 unit B25 dan semua masih dalam keadaan SO (Siap Operasi) di Dipo Lok Ambarawa. B25 01 "dipaksa mati", dimana B25 01 berjalan menjemput ajal dari Dipo Lok Ambarawa menuju monumen Palagan Ambarawa diatas rel sementara, di monumen Palagan, B25 01 mengakhiri hidupnya sebagai lok pajangan. B25 04 sendiri dirucat di Dipo Gundih sementara B25 05 dirucat sebagai spare alias kanibalan. B25 03 kini menggunakan sasis dan komponen-komponen milik B25 05.

13. Beberapa lokomotif diesel hidrolik milik DIVRE I sempat dipasangi foglamp/lampu kabut. Diantaranya BB303 21, BB303 36 dan BB303 23.
BB303 36. Foto : Bpk. Paulus Soni Gumilang
14. Gerbong Terbuka yang digunakan oleh KA Babaranjang memiliki dua jenis coupler, yang satu automatic coupler biasa sementara yang satunya adalah automatic coupler yang bisa berputar. Automatic coupler yang berputar berguna agar tidak perlu melepas rangkaian saat gerbong dibalik di RCD. Agar berfungsi dengan baik, automatic coupler yang bisa berputar harus dipasangkan dengan automatic coupler biasa. Jika sesama automatic coupler biasa bertemu dan diputar di RCD, maka yang terjadi adalah coupler akan patah, sementara jika sesama automatic coupler berputar yang bertemu, maka coupler akan terpelintir. (RCD : Rotary Car Dumper)

15. Aslinya, CC201 25-28 merupakan pesanan PUSRI. Entah kenapa lokomotif ini diambil alih oleh PJKA.

16. CC200 hanya memiliki 4 notch throttle.

17. Railone merupakan satu-satunya KAIS (KA Inspeksi) yang memiliki sirine.

18. D51 aslinya tidak dilengkapi dengan smoke deflector. Tetapi, D51 04 dipasangi smoke deflector milik C53 oleh kru Dipo Purwokerto/Kroya.

19. Railclinic bukanlah kereta klinik pertama di Indonesia. Di era penjajahan Belanda, ada kereta klinik berkode QL. Kini kereta tersebut disimpan di Museum Transportasi Jakarta.

20. Sistem DAOP baru digunakan di era PERUMKA. Saat era PJKA, dikenal yang namanya sistem Inspeksi dan Ekploitasi. Inspeksi sendiri merupakan satuan kerja dengan wilayah seperti DAOP, sementara Eksploitasi lebih besar lagi, mencakup satu provinsi.

Daftar Eksploitasi :
1. Eksploitasi Sumatera Utara (ESU)
2. Eksploitasi Sumatera Barat (ESB)
3. Eksploitasi Sumatera Selatan (ESS)
4. Eksploitasi Barat (EBT), mencakup wilayah Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten
5. Eksploitasi Tengah (ETH), mencakup wilayah Jawa Tengah dan DIY
6. Eksploitasi Timur (ETR), mencakup wilayah Jawa Timur

Daftar Inspeksi :
1. Inspeksi 1 Jakarta
2. Inspeksi 2 Cirebon
3. Inspeksi 3 Bandung
4. Inspeksi 4 Purwokerto
5. Inspeksi 5 Semarang (Semarang ke barat atau jalur ex SCS)
6. Inspeksi 6 Yogyakarta
7. Inspeksi 7 Semarang (Semarang ke timur, termasuk jalur Kudus-Blora-Demak)
8. Inspeksi 8 Madiun
9. Inspeksi 9 Surabaya
10. Inspeksi 10 Malang
11. Inspeksi 11 Jember
12. Inspeksi 12 Tanjungkarang
13. Inspeksi 13 Kertapati
14. Inspeksi 14 Padang
15. Inspeksi 15 Medan

0 comments: