Random Facts about Indonesian Railways (1)

1. Dari 27 unit CC200, CC200 01 adalah CC200 pertama yang afkir. CC200 01 harus afkir setelah rusak berat akibat ditabrak BB200 35 dalam PLH Telawa, 1973. BB200 35 juga afkir akibat PLH tersebut.
CC200 01, Telawa, 1973. Foto : Anonim
2. Di era 1990an/2000an awal, KA Empu Jaya dan Galuh biasanya menggunakan lok "sisa". Dalam hal ini, biasanya lok yang masuk dipo Jatinegara, selesai dinas KA Kontainer/Barang Cepat akan berdinas Galuh/Empu Jaya. Oleh karena itu kedua KA tersebut memiliki tingkat keterlambatan tinggi, karena harus menunggu lokomotif.

3. CC200 03 adalah CC200 yang pertama berdinas.

4. CC201 03 adalah CC201 yang pertama berdinas.

5. CC201 54 pernah "koma" selama 9 bulan, tergeletak di Balai Yasa Yogyakarta di tahun 2001.

6. BB301 27 bisa dikatakan memiliki "hobi" berjalan tanpa masinis. BB301 27 pernah berjalan sendiri tanpa masinis di area Dipo Sidotopo, Indro dan Palur. BB301 27 memang dikenal "bader". Konon, awal cerita dimulai dari dua orang masinis yang berkelahi akibat suatu masalah di kabin BB301 27. Salah satu dari mereka tewas dalam perkelahian itu. Sejak saat itu dimulailah cerita-cerita aneh seputar BB301 27. BB301 27 pernah mengenakan livery unik di era 1970an.

BB301 di masa awal PERUMKA. Foto : Bpk. M Luthfi Tjahjadi

BB301 12 DT BB301 27 menghela KA Parahyangan. Nampak BB301 27 mengenakan livery uniknya. Foto : Anonim

7. BB304 batch 1 ada yang diturunkan di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Dahulu, Dipo Induk Sidotopo adalah basis BB304 generasi awal sebelum akhirnya disebar.

8. D52 merupakan lokomotif uap dengan tekanan uap tertinggi di Indonesia. Kebocoran sedikit saja akan membuat ketel/boiler D52 meledak. Contoh kasusnya adalah D52 084 yang meledak di Galuh Timur, Bumiayu pada Agustus 1977. Oleh karena itu, selain masinis dan juru api, petugas khusus juga ditugaskan untuk merawat D52. Dipo yang menjadi "pangkalan" utama D52 adalah Madiun dan Cirebon.
D52 005, Cikampek, 4 Februari 1974. Foto : Franc Mitchell
9. Di lintas non rel gerigi, rekor kecuraman lintas dipegang oleh petak Cipeundeuy-Cirahayu yang memiliki gradien 25 permil (untuk lintas utama) dan petak Tagogapu-Cipatat yng memiliki gradien 30 permil. Sementara untuk lintas dengan rel gerigi, rekor kecuraman dipegang oleh DIVRE II yang memiliki gradien sekitar 60-70 permil.

10. Stasiun Bandung dan Stasiun Solo Balapan adalah stasiun pertama di Indonesia yang menggunakan sinyal elektrik. Sistem persinyalan elektrik pada kedua stasiun dipasang pada 1969, dengan teknologi yang tergolong canggih pada era tersebut.

Stasiun Bandung, sekitar 1969. Koleksi Stefan Matthaus.
11. BB204 memegang rekor sebagai lokomotif termahal di era PJKA/PERUMKA sekaligus lok dengan komputerisasi pertama di Indonesia (meski hanya komputerisasi sederhana). BB204 juga dilengkapi dengan beberapa sensor.

BB204 02. Dari koleksi Franky de Witte.
12. Hanya Indonesia saja yang memesan GE U18 dalam konfigurasi A1A. Lok ini kita kenal sebagai BB203. Ada 59 unit BB203 yang tersebar di Dipo Induk Tanjung Karang dan Semarang Poncol. 52 unit BB203 direhab menjadi CC201 sementara 7 unit tetap dibiarkan sebagai BB203. Saat ini, hanya tersisa 5 unit BB203. 2 unit BB203 harus afkir, yaitu BB203 01 dan BB203 03. Kelimanya kini berada di DIVRE I Sumut. Sama seperti CC201, BB203 batch 1 juga tidak dilengkapi dengan fasilitas mutiple unit/MU.

5 unit BB203 yang tersisa. Foto : Rahman Syawal Magrisa.
BB203 27 dengan KA Kertajaya persiapan berangkat dari Stasiun Surabaya Pasar Turi. Foto : Bpk. M Luthfi Tjahjadi
13. BB201 adalah lokomotif pertama di Indonesia yang dilengkapi dengan rem dinamis dan multiple unit/MU.

BB201 11 di Lempuyangan. Foto : Bpk. M Luthfi Tjahjadi
14. Dahulu, beberapa Dipo Lokomotif memili cirikhas tersendiri dalam penampilan lokomotif. Dipo Lok Jatinegara biasanya menambahkan garis putih pada pinggir cowcatcher lokomotif dan menambahkan bintang pada tutup semboyan 26/27 (terutama pada CC201 batch 2). Sementara Dipo Lok Madiun biasanya menambahkan emblem bersayap yang bertuliskan MN pada tutup semboyan 26/27. Dipo Lok Sidotopo juga menambahkan emblem bersayap pada tutup semboyan 26/27, hanya saja bertuliskan SB. Terkadang, Dipo Lok Sidotopo juga menuliskan kata SDT pada tender D52 miliknya.

CC201 48 di era 80an. Nampak cowcatchernya diberi garis putih di pinggirnya. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti
CC 201 32 dengan KA Senja Utama Solo. Nampak cowcatchernya diberi garis putih pada pinggirnya. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti.
Perhatikan emblem bertuliskan MN pada tutup semboyan 26/27. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti
CC201 50 sesudah dimutasi ke PWT dari JNG. Perhatikan bintang pada tutup semboyan 26/27. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti
CC201 50 semasa masih diasuh JNG. Koleksi Mas Mikail Rinto
15. Awalnya, BB200 memiliki dua jenis rem udara, yaitu rem vakum dan rem udara tekan/westinghouse. Namun seiring tidak dipakainya rem vakum, maka hanya disisakan rem westinghouse pada perangkat pengereman BB200.

16. CC201 38 pernah dimodifikasi sebagai Head End Power Locomotive. Jadi, lokomotiflah yang menyuplai kebutuhan listrik kereta. Namun program ini dianggap gagal.

Sisi LH. Foto : Bpk. Paulus Sony G.

SHnya. Foto : Bpk. Paulus Sony G.
17. CC201 05 adalah CC201 pertama yang menggunakan livery merah-biru PERUMKA.

18. Pada 31 Agustus 1964, D300 23 meluncur tanpa awak dari emplasemen dipo lok Bandung hingga lepas Cicalengka. Lok akhirnya dapat dihentikan selepas Cicalengka setelah lok selip akibat rel diberi oli. Peristiwa ini menyebabkan satu orang tewas akibat tersambar lok karena perlintasan tidak sempat ditutup. Kini D300 23 menjadi koleksi Museum KA Ambarawa.

D300 23 di Dipo Lok Ambarawa.

20. CC200 26 dikirim ke Balai Yasa Yogyakarta untuk diperbaiki, namun dirucat pada 26 November 1999.
CC200 26 di Cirebon. Foto : WS
21. Tiga kejadian beruntun di tahun 2001 membuat nama Empu Jaya diganti menjadi Progo. Kejadian itu adalah :
- Ditamper bus di Prupuk pada 1 Agustus 2001. 13 orang tewas dan 7 lainnya luka-luka.
- Menabrak CC201 20 yang sedang langsir di Stasiun Cirebon Kejaksan pada 3 September 2001. 42 orang tewas akibat kejadian ini, termasuk masinis dan asisten masinis yang gugur. Lok yang berdinas CC201 64.
- Menabrak KA Gaya Baru Malam Selatan di Ketanggungan Barat, 25 Desember 2001. Lok yang berdinas : CC203 17 KA 146 Empu Jaya, CC 201 44 KA 153 GBMS. 31 orang tewas dalam kejadian ini,

22. Meskipun penyelidikan kepolisian menyebutkan bahwa masinis dan asisten masinis KA Empu Jaya bersalah dalam tabrakan di Cirebon, faktanya masinis KA Empu Jaya sudah gugur sebelum PLH terjadi. Alm. masinis terkena serangan jantung dan meninggal sementara asisten masinis tertidur akibat kelelahan. KA kemudian melaju tanpa kendali dan laju KA semakin cepat. Keanehan mulai ditangkap PK/OC CN ketika laju KA semakin cepat dan masinis dipanggil tiga kali tidak menjawab. Kepala Stasiun Arjawinangun kemudian berinisiatif mengumpulkan warga dan menyuruh mereka melempari kabin lok dengan batu untuk membangunkan awak kabin. Lemparan salah satu warga mengenai dahi alm. masinis, yang tetap dalam posisi menunduk. Asisten masinis yang terbangun mendapati jenazah masinis sudah kaku sementara tangan jenazah masih memegang handle rem dan throttle, waktupun habis. Akhirnya KA Empu Jaya menabrak lok langsir di Cirebon. Jenazah asisten masinis ditemukan di belakang jenazah masinis, dalam posisi tangan kanan memegang pundak masinis. Rencana awal PK/OC CN adalah menabrakkan KA ke badug. Namun melihat kecepatan KA, rencana tersebut dibatalkan karena potensi korban jiwa yang besar. (Dari sumber terpercaya yang melakukan penyelidikan independen atas PLH ini).

23. Pada 20 April 1964, PNKA meluncurkan 2 KA Kilat (non-stop) relasi Jakarta-Bandung PP. KA Jakarta-Bandung diberi nama Gowawijaya sementara KA Bandung-Jakarta diberi nama Pasopati. KA ini menggunakan kereta baru dari Jepang yang menggunakan airbrake/rem westinghouse.

24.Ada dua lokomotif bernomor BB305 01. Yang satu buatan Jenbacher AG yang dimiliki oleh PN Kertas Letjes sementara yang satunya buatan Nippon Sharyo yang dimiliki oleh Semen Nusantara Cilacap.

25. Dwipangga awalnya adalah sebuah KA kelas Spesial. Namun kemudian dinaik pangkatkan menjadi Argo.
Peluncuran KA Dwipangga pada 21 April 1998. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti

3 comments:

  1. Lumayan tuk bahan bacaan dirumah. (c) :)

    ReplyDelete
  2. boleh juga, buat nambah pengetahuan,..bagaimana kalo bahas railwaynya...

    ReplyDelete