Unique Facts of CC 203

Beberapa fakta unik CC 203 yang mungkin belum anda ketahui :

1. CC 203 04 adalah CC 203 pertama yang mecapai kecepatan 120 km/jam.

2. CC 203 04 dan CC 203 01 pernah mengenakan livery putih garis biru tanpa garis di muka SH.

CC 203 04, testrun JB250 Argogede, Cikampek, 24 Juli 1995. Foto : Bpk. Eddy Mardjianto

3. CC 203 merupakan lokomotif diesel elektrik dengan akselerasi tercepat sekaligus lok diesel tercepat di Indonesia. Bila speed limiternya dilepas, CC 203 dapat berlari hingga 150 km/jam, bahkan lebih. CC 203 28 membukukan kecepatan 148 km/jam saat PL Kendal (berjalan tanpa awak dari dipo SMC hingga Kaliwungu), 2013. Sementara, ada CC 203 milik dipo BD yang membukukan kecepatan 153 km/jam di petak antara CN-CKP.

4. CC 203 01 langsung memakan korban saat pertama berdinas. Saat berdinas perjalanan perdana JB250 Argogede, 31 Juli 1995, CC 203 01 ditamper pengendara motor di Tambun. Pengendara tsb terseret sangat jauh akibat KA tidak berhenti. KA baru berhenti ketika TKA (Teknisi KA) melaporkan puing2 sepeda motor tersangkut di bogie kereta pembangkit. Akibatnya, JB250 masuk stasiun Bandung terlambat 5 menit.

Presiden Soeharto meresmikan KA JB250 Argogede di Gambir, 31 Juli 1995. Koleksi Bpk. Happy M.
CC203 01 dengan JB250 Argogede di Stasiun Bandung, 31 Juli 1995. Perhatikan bagian bawah cowcatcher nampak ada cat yang mengelupas. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti.
5. CC 203 dapat dipacu ketika suhu kamar mesin sudah 70 derajat celcius, meskipun tekanan udara di tangki udara utama tidak sama dengan tangki udara penyama.

6. CC 203 40 dan 41, merupakan lokomotif kepresidenan dengan masa dinas terlama, dari tahun 2002 hingga tahun 2006.

CC 203 40 dan 41 berdinas KLB RI1 Peresmian Jembatan Cisomang Baru, 2002, foto : Bpk. Ario Wibisono
7. Selain CC 203 40 dan 41, CC 203 12, 24 dan 36 juga menyandang gelar lokomotif kepresidenan.

8. CC 203 01 menggunakan 3 jenis livery pada 1995.

Livery pertama CC 203 01, asli dari GE. Foto : Anonim
9. Dahulu, AC merupakan fasilitas standar pada CC 203. Namun karena membuat awak kabin kedinginan dan membuat rembesan air saat hujan, AC akhirnya dinonaktifkan, bahkan dicopot.Namun demikian, aslinya 12 unit CC203 buatan GE belum dilengkapi dengan AC. AC baru menjadi fasilitas standar CC203 saati CC203 13 dan 14 buatan GE Lokindo muncul.

CC 203 02 di Balai Yasa Yogyakarta, 1998. Perhatikan kotak AC masih lengkap. Foto : Bpk. Indra Krishnamurti

11. CC 203 13, 14 dan ICTSI-1 (CC 203/GE U20C yang dijual ke ICTSI Philliphines) diresmikan presiden Soeharto pada 17 Desember 1996 di stasiun Gambir.
Koleksi Bpk. Ariawan Sulistya
Koleksi Bpk. Ariawan Sulistya
12. CC 203 08 sempat mengenakan livery polos dengan logo PERUMKA besar di body samping pada akhir 1990an.

CC 203 08 di Dipo Lokomotif Yogyakarta. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti
13. CC 203 33R merupakan satu-satunya CC 203 yang bergelar R. Gelar ini didapat setelah CC 203 33 mengalami PLH Labuan Ratu, dimana oleh Balai Yasa Lahat, setting bullgear CC 203 33R diganti.

14. Sebelum mengenakan livery hijau, CC 203 31-34 milik PT TEL mengenakan livery putih garis biru tanpa logo apapun di bodynya.

CC 203 milik PT TEL, Tarahan, 2007 oleh Bpk Yunarto Prabowo
15. Bagian muka SH CC 203 yang berlogo, didesain untuk menahan benturan kuat. Tetapi bagian yang miring diatasnya justru tidak terlalu kuat dalam menahan benturan.

16. Ditahun-tahun awal operasi JS-950 Argobromo, CC 203 dipacu pada kecepatan 115-119 km/jam di lintas utara Jawa.

17. CC 203 25 berdinas test run rangkaian Argo Bromo Anggrek dari Madiun menuju Solo, dan CC 203 25 juga yang menarik Argo Bromo Anggrek dari Surabaya Pasar Turi saat perjalanan perdana.

CC 203 25 dengan test run rangkaian Argo Bromo Anggrek. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti
Koleksi Bpk. Ariawan Sulistya
18. CC 203 20 sempat menggunakan tralis pada akhir dekade 1990an.

CC 203 20 menarik KA Argo Lawu. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti
19. CC 203 08 adalah CC 203 terakhir yang mengenakan livery putih biru logo DEPHUB.

20. Kabin CC 203 didesain oleh Goonian Rail (sekarang UGL Rail), Australia

21. Boleh dibilang, CC 203 39 dan CC 203 40 adalah CC 203 "sakti". CC 203 39 menghajar CC 201 135R pada PLH Gubug, 2006 pada kecepatan kurang lebih 70 km/jam. Tetapi kerusakannya tidak terlalu parah. Kabinnya utuh, namun kaca-kacanya pecah, underframenya tetap lurus meskipun sisi LHnya rusak akibat tertimpa kereta. Sementara CC 203 40 menghancurkan satu unit K2 saat PLH Petarukan 2010 dengan hanya mengalami pecah kaca dan lampu kabut/semboyan saja.

22. Aslinya, CC 203 tidak memilik tangga untuk turun di belakang kabin.

CC 203 13 dengan Argo Lawu bersiap berangkat dari stasiun Solo Balapan. Perhatikan, dibelakang kabin hanya ada handrail, minus tangga. Foto : Alm. M.V.A Krishnamurti
23.  CC203 30 sempat memiliki sedikit cacat di bagian mukanya, dimana handle yang biasanya berjumlah 4, hanya ada 3 saja. Namun, muka 30 dinormalkan saat PA 2016.

CC203 30, 2015.

3 comments:

  1. DKA (1953-1960), PNKA (1960-1970), PJKA (1970-1989), PERUMKA (1989-1995), PT Kereta Api (Persero) (1995-2010) & PT Kereta Api Indonesia (Persero) (2010-sekarang).

    ReplyDelete